Suka Duka Kuliah di Korea Part 2-Part Time Hunter

“Barangsiapa pada malam hari merasakan kelelahan karena bekerja pada siang hari, maka pada malam itu ia diampuni Allah.” (HR Ahmad dan Ibnu Asakir)

Salam,

Kali ini saya ingin berbagi tentang episode mencari tambahan uang jajan di sela-sela menimba ilmu di Negeri Kimchi ini. Setelah sebelumnya di part 1 saya sudah menjabarkan tentang biaya hidup yang umum di Korea, di bagian ini saya ingin menceritakan tentang pengalaman saya sendiri mengarungi dunia pe-kerja sambilan-an dan juga sedikit jenis-jenis kerja sambilan atau part time atau areubaiteu/alba (아르바이트/알바).

Saya mulai kerja sambilan saat mulai S2 karena mahasiswa yang punya visa pelajar (S1, S2, S3) diperbolehkan untuk part time selama beberapa jam sesuai dengan ketentuan per minggunya. Waktu itu saya masih semester 1 dan masih mendapat full beasiswa dari KGSP. Kenapa harus part time kalau sudah dapat beasiswa yang termasuk lebih dari cukup untuk hidup per bulannya? Alasannya, karena satu, saya ingin mendapat uang tambahan buat ditabung. Dua, ingin mendapat pengalaman kerja. Tiga, mengasah kemampuan saya dalam manajemen waktu juga. Waktu itu saya hanya nyambi freelance untuk penerjemah video dari bahasa Indonesia ke Korea. Setelah masuk semester 2, saya sadar saya akan tinggal lebih lama di Korea melebihi batas waktu jatah beasiswa saya sehingga saya berusaha mencari pekerjaan untuk menabung. Selama 1 tahun saya bekerja di kantor pengacara untuk membantu menerjemahkan kasus yang berhubungan dengan Indonesia, sambil mengisi waktu untuk menerjemahkan konten game online dari bahasa Inggris ke Indonesia yang masih saya tekuni sampai sekarang.

Pada bulan Agustus 2016 kemarin, secara resmi saya melepas status saya sebagai penerima beasiswa KGSP karena saya belum menyelesaikan tugas akhir alias tesis saya. Waktu itu saya sudah berhenti dari pekerjaan di kantor pengacara itu dan sesekali menerima tawaran nge-guide untuk wisatawan dari Indonesia dalam grup kecil. Saya masih ingat, waktu itu saya cukup khawatir (sebenarnya lebih dari “cukup” khawatir hihi) bagaimana saya bisa menghidupi diri saya sendiri per bulannya sampai saya bisa lulus. Setidaknya saya harus menyiapkan KRW 700,000 (sekitar lebih dari Rp 8,000,000) per bulannya untuk membayar sewa kamar dan hidup sehari-hari. Sebagai mahasiswa yang masih menulis tugas akhir, saya tidak bisa bebas kerja setiap harinya karena harus mengerjakan tesis. Saya masih ingat waktu itu ibu saya selalu menanyakan tentang bagaimana saya bisa dapat uang untuk hidup di sini, haruskah ibu dan ayah saya mengirim uang untuk biaya sehari-hari saya. Saya juga masih ingat, saya menjawab “Ada Allah, ma.. Mama tenang aja..”

Iya, saya yakin sekali, Allah itu selalu membukakan jalan rezeki dari pintu mana saja. Bahkan dari pintu yang tidak pernah terduga, tidak pernah terpikirkan oleh saya sekalipun. Sejak saat itulah saya selalu percaya bahwa Allah itu satu-satunya Penolong yang terbaik, yang tidak akan membiarkan saya telantar di negeri rantau ini.

“Sungguh seandainya salah seorang di antara kalian mengambil beberapa utas tali, kemudian pergi ke gunung dan kembali dengan memikul seikat kayu bakar dan menjualnya, kemudian dengan hasil itu Allah mencukupkan kebutuhan hidupmu, itu lebih baik daripada meminta-minta kepada sesama manusia, baik mereka memberi ataupun tidak.” (HR al-Bukhari)

Pada akhirnya saya sempat pengangguran selama kurang lebih sebulan setelah menerima tunjangan KGSP untuk terakhir kalinya. Alhamdulillahnya waktu itu saya pulang sebentar ke Indonesia jadi tidak terlalu banyak pengeluaran. Dan memang Allah sudah menakdirkan saya mendapat kesempatan bekerja di sini setelah kembali. Saat saya masih ada di Indonesia, seorang teman baik membagikan lowongan pekerjaan dari kantor yang bekerja di bidang internasional, yaitu tepatnya hubungan Korea dengan negara-negara ASEAN. Waktu itu saya hanya mencoba untuk mendaftar padahal sudah mepet, dan bilang pada diri saya sendiri, kalau memang rezekinya maka akan datang pada saya. Alhamdulillah alladzi bi ni’matihi tatimmus shalihat, Allah mengizinkan saya mengais rezeki dari kantor itu sehingga saya pun resmi menjadi intern atau pekerja sambilan yang datang ke kantor dua kali seminggu mulai November 2016 sampai sekarang. Meskipun terkadang masih ada waktu-waktu di mana saya harus mengandalkan uang tabungan saya ketika saya kehabisan uang gaji saya, tapi Allah masih mencukupkan saya dengan limpahan rezekiNya. Pelajaran yang saya terima dari sini adalah, Allah itu tidak pernah mengabaikan hambaNya dan saya percaya itu. Ia lah satu-satunya Penolong, dan Pemberi terbaik.

“Sesungguhnya, Allah senang pada hamba-Nya yang apabila mengerjakan sesuatu berusaha untuk melakukannya dengan seindah dan sebaik mungkin”. (HR. Baihaqi) 

sumber

Dan untuk mencari rezeki yang halal, hal yang dibutuhkan adalah terus bersemangat dan enjoy, dan memberikan yang terbaik dalam pekerjaan kita. Karena ini adalah salah satu bentuk dan cara kita bersyukur padaNya. Ini sesuai dengan hadits di atas yang menyatakan bahwa justru kita harus memberikan yang terbaik dalam pekerjaan bahkan lebih dari apa yang diperintahkan pada kita. Karena keringat kita tidak akan terbuang sia-sia. Dengan izinNya ia akan berubah menjadi bulir-bulir pahala, yang mencurahkan rezeki dan rahmat dariNya.

KakaoTalk_20170414_113151672.jpg
Sebagai representatif dari negara ASEAN di salah satu acara tahunan kantor saya

Cukup dengan cerita saya 😆. Saya ingin juga berbagi tentang pekerjaan-pekerjaan sambilan yang banyak dilakukan oleh teman-teman pelajar yang sedang menuntut ilmu di sini. Bagi teman-teman pelajar yang bisa berbahasa Korea, cukup banyak kesempatan yang didapatkan untuk bekerja sambilan di sini seperti penerjemah lisan dan tertulis. Untuk kesempatan-kesempatan seperti ini banyak ditemui karena banyak acara yang membutuhkan penerjemah Indonesia-Korea atau sebaliknya. Sementara teman-teman yang belum terlalu fasih berbahasa Korea, ada juga kesempatan-kesempatan yang bisa didapat yaitu salah satunya adalah guide untuk turis-turis Indonesia yang datang ke Korea. Banyak sekali teman-teman di sini yang pasti sudah pernah mencoba setidaknya sekali melakukan pekerjaan ini. Ngeguide itu cukup seru karena bisa jalan-jalan sambil berkenalan sama orang-orang baru. Normalnya di sini dipatok harga 100 dolar perharinya. Tapi tergantung lagi dari orang-orangnya. Meskipun belum terlalu fasih berbahasa Korea, asal sudah familiar dengan transportasi dan tempat-tempat wisata Seoul, pekerjaan ini bisa dilakukan oleh siapa saja yang sedang ada di Korea (atau bahkan yang bukan).

Selain itu, mungkin ada beberapa pekerjaan yang berhubungan dengan telepon seluler atau provider telepon di Korea, marketing di perusahaan-perusahaan internasional, atau peneliti di institusi-institusi tertentu. Bahkan banyak juga yang mencari tenaga untuk kerja sambilan di katering makanan Indonesia atau restoran internasional, atau guesthouse. Untuk pekerjaan-pekerjaan ini saya belum pernah mencoba semua secara langsung, tapi saya pernah mendengar cerita dari teman-teman di sekitar saya, atau hanya melihat iklan di grup Facebook. Asalkan pekerjaan itu memenuhi ketentuan UMR (gaji minimal) dan sesuai untuk kami sebagai pelajar di sini, insyaAllah bisa dilakukan.

Demikian sharing singkat dari saya. Semoga tidak bosan dan jadi mendapat hal-hal baru dari kami yang sedang menuntut ilmu di sini. Semoga bermanfaat.

 

“Stop doubting yourself, work hard and make it happen.” -anonymous 

Selamat berakhir pekan.

Salam,

14 April 2017, 11.29am. Kantor saya.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s